
BANTUL – KNPI Bantul – Tahun 2011, Suprihatin mengikuti kejuaraan lomba nulis buku tingkat nasional, ia memperoleh juara, sayangnya saat itu terjadi perubahan struktural yang membuat bukunya belum bisa tebit, setelah mengurus ijin hingga 15 tahun, akhirnya buku dengan judul ‘Jasa Anak wayang’ terbit dan di launching pada Selasa, 20 Oktober 2026 sore pada acara rutin #SelasaSastra di Klingan Garden & Café Bejen RT 05 Bantul.
“Perjalanan buku ini sudah sangat menderita, bahkan sejak menuliskannya, karena tidak boleh ada cerita berbau darah dan sebagainya, hingga yang biasanya diterbitkan masal dari Jakarta, saat itu tidak jadi terbit, setelah mengurus ijinnya, atas bantuan dari Balai Bahasa Yogyakarta, akhirnya buku bisa terbit,” ungkap Suprihatin yang pensiunan Guru dan pengawas pada masa aktifnya.
Suprihatin menceritakan bahwa dirinya memang rajin menulis dan mengikuti berbagai lomba penulisan, hingga menembus kejuaraan nasional, bahkan karena seringnya meraih kejuaraan, dirinya sempat di stop tidak boleh ikut lomba lagi.
“Karena sudah tifa kali berturut-turut meraih kejuaraan nasional, jadinya tidak boleh ikut, tapi saat itu sempat mencoba mengirim dan dikembalikan, lantas buku ini, akhirnya dapat juara nasional lagi, makanya ini sangat berkesan bagi saya,” imbuhnya.
Diskusi buku yang dipandu Tedi Kusyairi juga menghadirkan penanggap yaknis Setya Amrih Prasaja, Kasi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY, yang melihat betapa telatenya seorang penulis dengan melihat situasi sosial pada jamannya.
“Bagi genersai sekarang, apa yang ditulis mbah Suprih ini memiliki banyak pengetahuan mengenai situasi sosial dan nilai etnik yang ada di jamnnya, yang kini bahkan istilahnya sudah mulai hilang, maka buku ini penting untuk dibaca, sebagai referensi pengetahuan yang berbasis pada sejarah masa lalu,” kata Amrih.
Lebih lanjut, Suprihatin mengatakan masih terus menulis untuk komunitas, dan merapikan banyak tulisannya untuk diterbitkan kelak, salah satunya tulisan mengenai batik yang sedang diketik ulang.
Sementara itu Amrih lebih menekankan pada upaya penggalian kembali nilai-nilai sejarah yang saat ini masih ada untuk direspon oleh generasi muda, sebagai bagian upaya melestarikan nilai dan pengetahuan di masa lalu. Termasuk sesuai cerita buku ‘Jasa Anak Wayang’ mengenai pembulian yang ternyata ada juga sejak dulu dan bagaimana menyiasatinya.
Aacara dibuka dengan fragmen ‘Anak Wayang’ oleh Bang Tedi Way, pembacaan nukilan buku oleh Syamsu Setiaji, dilanjutkan pentas sastra dari para hadirin dn juga bedah buku karya alumni Temu Karya Sastra 2025, Valentino SK, Mirna Radila, Madina Wening Utami dipandu oleh Fitria Eranda. (SPY)
