
Bantul – Selama enam hari mulai tanggal 25-30 April 2026 bertempat di Bejen Sinemacamp Bantul, Forum Desa Sinema berkolaborasi dengan berbagai komunitas film desa di Jateng-DIY, yakni Komunitas Film Magelang, Komunitas Film Klaten, Produksi Film Dinas Kebudayaan DIY, produksi film Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Komunitas Film Mahasiswa ISI Yogyakarta, dan Paguyuban Sineas Bantul. Film-film yang diputar dikuari terlebih dahulu oleh masing-masing komunitas dan kemudian kurasi dari Forum Desa Sinema.
Pekan Sinema Desa sendiri merupakan rangkaian kegiatan berupa ‘Kelas Film Making’ untuk anak muda desa, pelajar, dan masyarakat umum.
“Bangga karena ternyata antusias peserta lumayan banyak, hampir 30 peserta dan 80%-nya selalu mengikuti secara aktif, datang dan melakukan tugas kelas,” kata Haryanto Ketua Forum Desa Sinema, Rabu, 29 April 2026 di sela-sela pemutaran film dari Paguyuban Sineas Bantul.
Peserta kelas film making tidak hanya berasal dari Bantul, tapi juga dari Sleman, Rongkop Gunung Kidul, Magelang, dan Kota Yogyakarta, ada yang menginap dan laju secara mandiri, mengingat panitia tidak menyiapkan fasilitas uang transport. Kelas diampu oleh Tedi Kusyairi, Naufal Cakradara, Agung Lilik Prasetyo, dan Fitria Eranda.
Selain kelas making film yang dihelat pukul 12.00-18.00 wib, pekan sinema desa dilanjutkan agenda diskusi film desa dalam berbagai perspektif dari narasumber seperti Yoga Cinematani, Tedi Kusyairi, Aswarun Barera, Gepeng Nugroho, Aan Rahmanto, Ninda Filasputri, Ridho Darusman, Shafa, Bakti Saputra, Yulius P. Jati, Tonny Trimarsanto, dan Ahmad Yani. Sebelum diskusi mengenai dunia perfilman di desa dalam berbagai perspektifnya, dilakukan pemutaran film yang sudah dikurasi masing-masing komunitas, dengan tema film mengenai desa.
“Pekan Sinema Desa menjadi wadah bertemunya filmaker yang berbasis di desa dengan masyarakat apresiannya, sehingga bisa meningkatkan daya saing hasil karya film di desa ke jangkauan yang lebih luas,” tambah Haryanto.
Diharapkan sineas atau filmaker yang berbasis di desa kemudian lebih kreatif dan mandiri dalam berkarya dan distribusinya.
“Umumnya produk film yang dibuat temen-temen desa untuk kegiatan seperti pembinaan dinas atau ikut festival, kemudian hanya tersimpan saja, padahal film harusnya ditemukan dengan publiknya, diapresiasi dan jadi bagian riset atas dinamika sosial, untuk itulah kegiatan ini diupayakan oleh Forum Desa Sinema,” tegas Haryanto.
Tedi Kusyairi selaku pendiri forum desa sinema, berharap gerakan sinema di desa bisa terus berjalan.
‘sejak tahun 2007 hingga kini sudah bnyak inisiasi yang dilakukan seperti membuat organisasi Sineas Muda Bantul (OKP-organisasi kemasyarakatan Pemuda), Sineas Muda Indonesia (polrigram film Karang Taruna), program rutin Selasa Sinema, menginisiasi Paguyuban Sineas Bantul (tahun 2017), hingga mendorong lahirnya kampung sinema seperti Polaman Kampung Sinema, semoga jejaring bisa terus berjalan secara kolaboratif dalam kerja breng memajukan perfilman dengan sudut pandang masyarakat desa,’ kata Tedi Kusyairi.
