IMG_1818

Kader NU Bahas Pernikahan Siri dalam Novel ‘Suara Rindu’

IMG_1818

BANTUL – Rindu tokoh perempuan dalam novel ‘Suara Rindu’ yang ditulis oleh Dila Sari Octaviana, mengalami peristiwa yang sangat tragis, mengalami kekerasan seksual oleh lelaki di rumahnya sendiri. Novel dengan tema kekerasan seksual jarang diangkat oleh penulis pada umumnya. Ada beberapa isu terkait kekerasan seksual dalam novel ini, pemerkosaan sedarah, dan yang menjadi isu hangat mengenai pernikahan siri yang merugikan pihak perempuan.

Dila penulis novel anggota Selasa sastra sudah menerbitkan novel sebelumnya, namun baginya novel ‘Suara Rindu’ menjadi puncak capaian kepenulisannya.

“Jika di buku sebelumnya novel ‘Cinta yang Sebenarnya’, merupakan tulisan di masa muda dulu, dirasa kurang berbobot, di novel inipun awalnya menulis seperti kurang greget, hingga harus melakukan riset lagi untuk memperkuat kisah bagi sang tokoh di novel ini, melihat kenyataan disekitar dan berbagai berita di media mengenai kekerasan seksual dari sudut pandang perempuan, akhirnya meyakinkan diri menyelesaikan novel ini,” kata Dila yang sehari-hari sebagai guru di Informatika dan Seni Budaya di MTs Saintek Nurul Quran HDWR, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Launching, diskusi dan bedah novel ‘Suara Rindu’ Bunga yang Mekar di Tengah Badai, dihelat dalam agenda rutin Selasa Sastra pada minggu, 15 Februari 2026 mulai pukul 15.30 wib di Kelingan Garden & Café Bantul. Menghadirkan narasumber pembedah buku penulis novel Muyassarotul Hafidzoh yang memang fokus menulis cerita dengan tema kekerasan seksual, selain ia sebagai aktivis advokasi korban kekerasan seksual.

“Saya sangat bangga akhirnya novel ini terbit, karena sedikit novel yang berani mengangkat isu kekerasan seksual, apalagi dari sudut pandang perempuan. Novel ini menarik karena dari sudut pandang korban kekerasan seksual, perempuan khususnya, berani speak up dan kemudian melakukan transformasi diri, menjadi konselor pendamping bagi korban kekerasan seksual,” jelas Muyas panggilan akrabnya.

Nur Hidayat, Lurah Bangunharjo Sewon Bantul yang juga sekretaris PCNU Bantul, merasa bangga oleh Dila yang juga anggota Fatayat NU Bantul.

“Kami bangga, karena ada kader NU yang masuk usia Gen Z, mau membuat karya yang kekinian, ini jarang dilakukan kader NU, menuliskan karya sastra yang berkualitas, semoga karyanya mendunia,” jelas Nur Hidayat.

Selasa Sastra kali ini mengusung tema ‘Tapak Batas Rindu’ berisi pementasan karya sastra oleh Rika Rif’atil Hilmah, Faza Aulia Rahma, Muhammad Ilham Izzul Mutho, Nikta Azilda, Sabatina RW, Bang Tedi Way, dan Muyassarotul Hafidzoh. Selain sastra juga ada musik dari DMR Band, Dikki & Friends, Rhakustik, dan group Kiki Ratna Heri.

“Dila Sari salah satu anggota Selsa Sastra yang sudah lama berkegiatan dan menulis karya sastra, melalui novel yang membahas inner child semoga menjadi kontribusi dalam trauma healing bagi para korban kekerasan seksual, melalui launching ini diharapkan anggota yang lain juga termotivasi menerbitkan buku,” kata Tedi Kusyairi koordinator Selasa Sastra. (*)